Harga mobil listrik bekas di Indonesia mengalami tekanan sepanjang 2026. Sejumlah model bahkan ditawarkan dengan harga jauh lebih rendah dibandingkan unit barunya. Kondisi ini menjadi peluang bagi konsumen, tetapi menghadirkan tantangan tersendiri bagi pelaku bisnis showroom mobil bekas.
Penurunan harga EV bekas dapat memengaruhi keuntungan, nilai persediaan kendaraan, hingga strategi penjualan. Di tengah perkembangan teknologi kendaraan listrik yang semakin cepat, showroom perlu beradaptasi agar tetap kompetitif tanpa mengorbankan kepercayaan pelanggan.
Harga EV Bekas 2026 Turun, Apa yang Terjadi di Pasar?
Berdasarkan laporan Otosia pada 12 Oktober 2026, sejumlah mobil listrik bekas memiliki selisih harga yang signifikan terhadap harga baru resmi.
Wuling Air EV Lite 300 km tahun 2024 ditawarkan dengan harga tengah sekitar Rp99 juta, atau 61% lebih rendah dibandingkan harga baru saat ini.
Sementara itu, Hyundai Ioniq 5 Signature Long Range tahun 2022 memiliki harga tengah sekitar Rp395 juta, dengan selisih mencapai 57%. BYD Seal Premium Extended Range tahun 2024 juga mencatat selisih sekitar 49%.
Persentase tersebut merupakan perbandingan harga iklan bekas dengan harga baru resmi tahun 2026, bukan kerugian aktual pemilik pertama.
Menurut detikOto, persaingan harga kendaraan baru, perkembangan teknologi, dan kekhawatiran terhadap kondisi baterai turut memengaruhi nilai jual mobil listrik bekas.
Dampak Penurunan Harga EV terhadap Keuntungan Showroom
Bagi showroom, perubahan harga kendaraan listrik dapat menimbulkan beberapa tantangan bisnis.
1. Margin keuntungan semakin tertekan
Ketika harga pasar turun setelah showroom membeli kendaraan untuk stok, selisih antara harga modal dan harga jual berpotensi semakin kecil.
2. Nilai persediaan kendaraan menurun
Unit yang terlalu lama tersimpan berisiko mengalami penyesuaian harga, terutama ketika produsen meluncurkan model baru dengan spesifikasi lebih kompetitif.
3. Perputaran stok menjadi lebih menantang
Perubahan harga dan kekhawatiran konsumen terhadap baterai dapat membuat proses penjualan membutuhkan waktu lebih lama.
Karena itu, showroom perlu memperhitungkan biaya pembelian, inspeksi, perawatan, dan penyimpanan sebelum menentukan harga jual.
Strategi Showroom Menghadapi Depresiasi Mobil Listrik

Inspeksi dan Garansi sebagai Nilai Tambah bagi Showroom
Dalam bisnis kendaraan bekas, harga kompetitif saja belum tentu cukup untuk meyakinkan pelanggan.
Calon pembeli juga mempertimbangkan kondisi kendaraan, potensi biaya perbaikan, serta perlindungan setelah pembelian.
Melalui inspeksi yang memadai dan program garansi sesuai ketentuan, showroom dapat membantu memberikan kepastian mengenai kondisi dan perlindungan kendaraan.
Warranty Solution International (WSI) menyediakan solusi perlindungan kendaraan yang dapat mendukung layanan purnajual bagi pelaku bisnis otomotif.
Untuk memahami tantangan teknis kendaraan elektrifikasi, baca juga artikel WSI tentang menjual mobil bekas hybrid dan EV tanpa rasa takut.
Cakupan garansi tetap perlu disesuaikan dengan jenis kendaraan, komponen yang dijamin, dan ketentuan program.
Kesimpulan: Showroom Perlu Beradaptasi, Bukan Sekadar Menurunkan Harga
Penurunan harga EV bekas pada 2026 membawa tantangan sekaligus peluang bagi bisnis showroom.
Pengelolaan stok, penentuan harga yang tepat, serta transparansi kondisi kendaraan menjadi kunci dalam menghadapi perubahan pasar.
Dengan dukungan inspeksi dan layanan purnajual yang sesuai, showroom dapat membangun kepercayaan pelanggan sekaligus menjaga daya saing bisnis.
Ingin meningkatkan nilai tambah layanan showroom Anda? Kenali solusi garansi dan peluang kemitraan bersama Warranty Solution International.